Perlukah Kita Memilih Teman?

Manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain. Manusia membutuhkan manusia lain untuk saling berinteraksi dan berkomunikasi. Dalam kehidupan sehari-hari manusia tentu membutuhkan seorang teman. Akan tetapi tidak semua teman itu adalah baik karena melalui pertemanan dengan seseorang, maka itu bisa memberikan pengaruh terhadap bagaimana manusia itu berpikir, bersikap dan berbicara.

Dalam berbagai kisah kehidupan ini, ada begitu banyak pelajaran yang bisa kita ambil hikmahnya seperti misalnya bagaimanakah kisah para penghuni gua (Ashabul Kahfi) bertemu dan bersahabat satu sama lain? bahkan satu diantara mereka adalah seekor anjing. Datrue friendn karena anjing ini bersahabat dengan orang-orang yang sholeh, maka Allah SWT pun mengangkat derajatnya dan menjadikannya sebagai satu-satunya anjing yang masuk ke dalam syurga-Nya. Atau begitu pula sebaliknya ada banyak cerita bagaimana seseorang yang tadinya baik namun kemudian terjerumus ke dalam dunia narkoba hanya karena berteman dengan orang yang salah.

Islam sebagai agama yang sempurna dan menyeluruh telah mengatur bagaimana adab-adab serta batasan-batasan dalam pergaulan. Pergaulan sangat mempengaruhi kehidupan seseorang. Dampak buruk akan menimpa seseorang akibat bergaul dengan teman-teman yang jelek, sebaliknya manfaat yang besar akan didapatkan dengan bergaul dengan orang-orang yang baik.

Pengaruh Teman Bagi Seseorang

Banyak orang yang terjerumus ke dalam lubang kemakisatan dan kesesatan karena pengaruh teman bergaul yang jelek. Namun juga tidak sedikit orang yang mendapatkan hidayah dan banyak kebaikan disebabkan bergaul dengan teman-teman yang shalih.

Dalam sebuah hadits Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang peran dan dampak seorang teman dalam sabda beliau :

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة

Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Perintah Untuk Mencari Teman yang Baik dan Menjauhi Teman yang Jelek

Imam Muslim rahimahullah mencantumkan hadits di atas dalam Bab : Anjuran Untuk Berteman dengan Orang Shalih dan Menjauhi Teman yang Buruk”. Imam An Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa dalam hadits ini terdapat permisalan teman yang shalih dengan seorang penjual minyak wangi dan teman yang jelek dengan seorang pandai besi. Hadits ini juga menunjukkan keutamaan bergaul dengan teman shalih dan orang baik yang memiliki akhlak yang mulia, sikap wara’, ilmu, dan adab. Sekaligus juga terdapat larangan bergaul dengan orang yang buruk, ahli bid’ah, dan orang-orang yang mempunyai sikap tercela lainnya.” (Syarh Shahih Muslim 4/227)

Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah mengatakan : “Hadits di ini menunjukkan larangan berteman dengan orang-orang yang dapat merusak agama maupun dunia kita. Hadits ini juga mendorong seseorang agar bergaul dengan orang-orang yang dapat memberikan manfaat dalam agama dan dunia.”( Fathul Bari 4/324)

Manfaat Berteman dengan Orang yang Baik

Hadits di atas mengandung faedah bahwa bergaul dengan teman yang baik akan mendapatkan dua kemungkinan yang kedua-duanya baik. Kita akan menjadi baik atau minimal kita akan memperoleh kebaikan dari yang dilakukan teman kita.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’adi rahimahullah menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan permisalan pertemanan dengan dua contoh (yakni penjual minyak wangi dan seorang pandai besi). Bergaul bersama dengan teman yang shalih akan mendatangkan banyak kebaikan, seperti penjual minyak wangi yang akan memeberikan manfaat dengan bau harum minyak wangi. Bisa jadi dengan diberi hadiah olehnya, atau membeli darinya, atau minimal dengan duduk bersanding dengannya , engkau akan mendapat ketenangan dari bau harum minyak wangi tersebut. Kebaikan yang akan diperoleh seorang hamba yang berteman dengan orang yang shalih lebih banyak dan lebih utama daripada harumnya aroma minyak wangi. Dia akan mengajarkan kepadamu hal-hal yang bermanfaat bagi dunia dan agamamu. Dia juga akan memeberimu nasihat. Dia juga akan mengingatkan dari hal-hal yang membuatmu celaka. Di juga senantiasa memotivasi dirimu untuk mentaati Allah, berbakti kepada kedua orangtua, menyambung silaturahmi, dan bersabar dengan kekurangan dirimu. Dia juga mengajak untuk berakhlak mulia baik dalam perkataan, perbuatan, maupun bersikap. Sesungguhnya seseorang akan mengikuti sahabat atau teman dekatnya dalam tabiat dan perilakunya. Keduanya saling terikat satu sama lain, baik dalam kebaikan maupun dalam kondisi sebaliknya.

Jika kita tidak mendapatkan kebaikan-kebaikan di atas, masih ada manfaat lain yang penting jika berteman dengan orang yang shalih. Minimal diri kita akan tercegah dari perbuatan-perbuatn buruk dan maksiat. Teman yang shalih akan senantiasa menjaga dari maksiat, dan mengajak berlomba-lomba dalam kebaikan, serta meninggalkan kejelekan. Dia juga akan senantiasa menjagamu baik ketika bersamamu maupun tidak, dia juga akan memberimu manfaat dengan kecintaanya dan doanya kepadamu, baik ketika engkau masih hidup maupun setelah engkau tiada. Dia juga akan membantu menghilangkan kesulitanmu karena persahabatannya denganmu dan kecintaanya kepadamu. (Bahjatu Quluubil Abrar, 148)

Mudharat Berteman dengan Orang yang Jelek

Sebaliknya, bergaul dengan teman yang buruk juga ada dua kemungkinan yang kedua-duanya buruk. Kita akan menjadi jelek atau kita akan ikut memperoleh kejelekan yang dilakukan teman kita. Syaikh As Sa’di rahimahulah juga menjelaskan bahwa berteman dengan teman yang buruk memberikan dampak yang sebaliknya. Orang yang bersifat jelek dapat mendatangkan bahaya bagi orang yang berteman dengannya, dapat mendatangkan keburukan dari segala aspek bagi orang yang bergaul bersamanya. Sungguh betapa banyak kaum yang hancur karena sebab keburukan-keburukan mereka, dan betapa banyak orang yang mengikuti sahabat-sahabat mereka menuju kehancuran, baik mereka sadari maupun tidak. Oleh karena itu, sungguh merupakan nikmat Allah yang paling besar bagi seorang hamba yang beriman yaitu Allah memberinya taufik berupa teman yang baik. Sebaliknya, hukuman bagi seorang hamba adalah Allah mengujinya dengan teman yang buruk. (Bahjatu Qulubil Abrar, 185)

Kebaikan Seseorang Bisa Dilihat Dari Temannya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan teman sebagai patokan terhadapa baik dan buruknya agama seseorang. Oleh sebab itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kita agar memilih teman dalam bergaul. Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل

Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)

Jangan Sampai Menyesal di Akhirat

Memilih teman yang jelek akan menyebakan rusak agama seseorang. Jangan sampai kita menyesal pada hari kiamat nanti karena pengaruh teman yang jelek sehingga tergelincir dari jalan kebenaran dan terjerumus dalam kemaksiatan. Renungkanlah firman Allah berikut :

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلاً يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَاناً خَلِيلاً لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولاً

Dan ingatlah ketika orang-orang zalim menggigit kedua tanganya seraya berkata : “Aduhai kiranya aku dulu mengambil jalan bersama Rasul. Kecelakaan besar bagiku. Kiranya dulu aku tidak mengambil fulan sebagai teman akrabku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur’an sesudah Al Qur’an itu datang kepadaku. Dan setan itu tidak mau menolong manusia” (Al Furqan:27-29)
Lihatlah bagiamana Allah menggambarkan seseorang yang teah menjadikan orang-orang yang jelek sebagai teman-temannya di dunia sehingga di akhirat menyebabkan penyesalan yang sudah tidak berguna lagi.

Sifat Teman yang Baik

Ibnu Qudamah Al Maqdisi rahimahullah berkata :

وفى جملة، فينبغى أن يكون فيمن تؤثر صحبته خمس خصال : أن يكون عاقلاً حسن الخلق غير فاسق ولا مبتدع ولا حريص على الدنيا

Secara umum, hendaknya orang yang engkau pilih menjadi sahabat memiliki lima sifat berikut : orang yang berakal, memiliki akhlak yang baik, bukan orang fasik, bukan ahli bid’ah, dan bukan orang yang rakus dengan dunia” (Mukhtasar Minhajul Qashidin 2/36).

Kemudian beliau menjelaskan : “Akal merupakan modal utama. Tidak ada kebaikan berteman dengan orang yang bodoh. Karena orang yang bodoh, dia ingin menolongmu tapi justru dia malah mencelakakanmu. Yang dimaksud dengan orang yang berakal adalah orang yang memamahai segala sesuatu sesuai dengan hakekatnya, baik dirinya sendiri atau tatkala dia menjelaskan kepada orang ain. Teman yang baik juga harus memiliki akhlak yang mulia. Karena betapa banyak orang yang berakal dikuasai oleh rasa marah dan tunduk pada hawa nafsunya, sehingga tidak ada kebaikan berteman dengannya. Sedangkan orang yang fasik, dia tidak memiliki rasa takut kepada Allah. Orang yang tidak mempunyai rasa takut kepada Allah, tidak dapat dipercaya dan engkau tidak aman dari tipu dayanya. Sedangkan berteman denagn ahli bid’ah, dikhawatirkan dia akan mempengaruhimu dengan kejelekan bid’ahnya. (Mukhtashor Minhajul Qashidin, 2/ 36-37)

Hendaknya Orang Tua Memantau Pergaulan Anaknya

Kewajiban bagi orang tua adalah mendidik anak-anaknya. Termasuk dalam hal ini memantau pergaulan anak-anaknya. Betapa banyak anak yang sudah mendapat pendidikan yang bagus dari orang tuanya, namun dirusak oleh pergaulan yang buruk dari teman-temannya. Hendaknya orangtua memperhatikan lingkungan dan pergaulan anak-anaknya, karena setap orang tua adalah pemimpin bagikeluarganya, dan setiap pemimpin kan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinnya. Allah Ta’ala juga berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُون

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan “ (At Tahrim:6).

Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga kita dan keluaraga kita dari pengaruh teman-teman yang buruk dan mengumpulkan kita bersama teman-teman yang baik. Wallahul musta’an.

Sebagian artikel di atas dikutip dari : http://muslim.or.id

Advertisements

Only A Sound Heart

Taken from the lecture of Sister Yasmin Mogahed

How do we avoid true impoverishment of the soul? No one likes to fall. And few people would ever choose to drown. But in struggling through the ocean of this life, sometimes it is so hard not to let the world in. Sometimes the ocean does enter us. The dunya does seep into our hearts. And like the water that breaks the boat when dunya enter a heart, it shatters it. It shatters the boat.

allahlove

If you allow dunya to own your heart, you will sink down to the depht of the sea. And you may feel as though you are at your lowest point. Entrapped by your sins and the love of this life, you may feel broken surrounded by broken. Because that’s the amazing thing about the floor of the ocean. No light enters it.

But…this dark place is not the end. Remember that the darkness of night precedes the dawn. And as long as your heart still beats, this is not the death of it. You don’t have to die here. Sometimes, the ocean floor is only a stop in the journey. And it is when you are at the lowest point that you are faced with a choice, you can stay there at the bottom until you drown or you can gather pearls and rise back up. Stronger from the swim and richer from the jewels.

If you seek Him (Allah)….God can raise you up and replace the darkness of the ocean with the light of His sun. He can transform what was once your greatest weakness into your greatest strength. And a mean of growth, purification and redemption….know that transformation sometimes begins with a fall. So never curse the fall. The ground where humility lives.

So take it, learn it and breathe it in. And come back stronger, humbler and more aware of your need for Him. Come back having seen your own nothingness and His greatness. Know that you have seen that reality, you have seen much.

For the one who is truly deceived is the one who sees his own self but not his Creator. Deprived is the one who has never really witnessed his own desperate need for God. Reliant on His Own means he forgets that the means…his own soul and everything else in existence is His Creation.

Seek GOD to bring you back. For when He does…He will rebuild your ship. The heart that you thought was forever damaged will be mended. What was shattered will be whole again. Know that only He can do this, seek HIM. And when He saves you, beg forgiveness for the fall. Feel remorse over it but not despair. As Ibnu Qoyyim RA said;

“Shaytaan rejoiced when Adam AS came out of paradise, but he did not know that when a diver sinks into the sea…he collects pearls and then rises again”.

There is a powerful and amazing thing about tawbah ( repentance) and turning back to Allah. We are told that it is a polish for the heart. What is amazing about a polish is that it does not just clean. It makes the object that it polished even shinier and more beautiful than it was before it got dirty.

If you come back to God, seek His Forgiveness and refocus your life and your heart on Him. You have the potential to be even richer than if you had never fallen at all. Sometimes falling and coming back up gives you wisdom and humility that you may never otherwise have had.

And the Prophet Muhammad SAW has defined true richness. He has said :

“Richness is not having many possessions rather true richness is the richness of the soul”.

But how do we fill our heart with the true richness? How do we escape the constant bombardment from every direction commanding us to worship other things? Commanding us to take idols of the heart and love them as we should only love Allah?

How do we escape the true poverty of allowing any competitor into our hearts? How do we escape the poverty of enslaving ourselves to another deity with Allah? As Allah warns us in the Qur’an when He says :

“And yet there are people who take (for worship) other besides Allah, they love them as they should love Allah”.

But those of faith are overflowing in their love for Allah. To escape true poverty, we must be overflowing in our love for Allah. “Ashadu Hubban Lillah”. Your strongest love should be for God. But you can’t love someone that you don’t know. We need to know Him.

You don’t know someone that you never speak to…speak to Him…Ask of Him. And you can’t love someone that you don’t remember. Remember HIM often. And so this is a call to all those who have become enslaved by the tyranny of the self. And imprisoned in the dungeon of the nafs and desires.

It’s a call to all those who have entered the ocean of dunya, who have sunk into its depths, and become entrapped by its crushing waves. Rise up to the air, to the real world above the prison of the ocean. Rise up to your freedom, rise up and come back to life.

Leave the death of your soul behind you. Your heart can still live and be stronger and purer than it ever was. Remember that the polish of tawbah remakes the heart even more beautiful than it was. Remove the veil that you have sewn with your sins. Remove the veil between you and life. Between you and freedom, between you and light, between you and God.

Remove the veil and rise up. Come back to yourself  before it’s too late. Seek refuge in Allah. You and I know what day we were born. But none of us know what day we will die. And many people think that we can live our lives however we want. If our heart is empty of Allah during our life, how can it be full of Allah during our death?

If our heart full of love of this life, love of status, love of wealth, love of the creation over the Creator it is that which will speak. If the heart was full of grudges, jealousy, hatred…that will speak. But if it full of the love of Allah that will speak. If in your life your heart carried only “Laa Ilaha Illallaah” that truly there is no refuge, no shelter, no deity worthy of worship but Him, then only tongue will be given permission to say “Laa Ilaaha Illallaah Muhammad Rasulullah”.

Fenomena Susah Untuk Menikah

Saya rasa tak ada seorangpun yang mau mengalami seperti judul di atas. Bagaimanapun yang namanya menikah adalah salah satu kebutuhan alamiah dasar manusia. Ya ngga sih? mungkin bagi manusia yang masih normal masih membutuhkannya, tapi bagi yang mungkin tidak normal, hmmmm…..tanyakan pada hati nurani anda.
Suatu ketika saya sedang ngobrol dengan salah seorang rekan saya sesama guru. Dia menceritakan bahwa dia mempunyai teman (seorang wanita) yang sedang mencari jodoh padahal usianya saat ini sudah lebih dari 30 tahun. Setelah saya tanyakan kira-kira apakah cuma dirinya seorang yang mencari jodoh? ternyata dari teman yang lainpun saya mendapatkan informasi yang serupa. Ternyata jumlah wanita yang belum menikah di usia di atas 27 sampai 30an tahun sangat banyak.
Sebenarnya ini hanyalah analisa saya pribadi sebagai seorang istri, seorang ibu, seorang guru sekaligus mempunyai sahabat yang banyak dan sering menjadi tempat curhat oleh teman-teman saya. Menurut pendapat saya pribadi, sebenarnya ini adalah sesuatu yang lucu tapi aneh. Kok lucu dan aneh? yang lucu dan aneh bagi saya adalah sebagian besar dari wanita yang belum menikah ini memiliki wajah yang tidaklah jelek, kebanyakan dari mereka berwajah manis bahkan boleh dikatakan cantik, berkulit terang, berpendidikan bagus dan dibesarkan dalam lingkungan yang baik-baik. Apakah tidak ada seorang pria yang pernah melamar atau tertarik dengan mereka? jawabannya adalah “TIDAK”. Bahkan mereka sudah sering diperkenalkan dengan seorang pria yang tertarik bahkan mau menjadi suami bagi mereka. Tapi “SAYANG” jawaban dari para wanita ini adalah “Mereka Menolak Pria-Pria Yang Bermaksud Baik Tersebut” untuk melamar secara baik-baik dan datang kepada orang tua mereka. Alasannya adalah karena tidak sesuai dengan kategori “Pria Dambaan” mereka, seperti kaya, punya jabatan tinggi, sudah mapan seperti sudah punya rumah sendiri, mobil sendiri, mesti sholeh setara level Ustadz, dan impian lain mereka.
Apakah hal ini terjadi pula pada kaum Pria? Ya, tentu saja karena mereka ingin melamar secara baik-baik, tapi mereka selalu “TERTOLAK”. Sungguh kasihan nasib para “Pria” ini. Dan akhirnya merekapun menjadi putus asa. Sebagian dari mereka yang tadinya ingin melamar wanita baik-baik tapi tertolak, maka akhirnya mereka pun memilih wanita mana saja yang mau menerima lamaran mereka. Hehe…terserah apapun pendapat anda tapi inilah kenyataan yang banyak terjadi di sekitar kita. Dan seandainya saja ada pihak yang ditugaskan oleh pemerintah untuk mengambil sample data ada berapakah jumlah “Wanita Produktif” dan “Pria Produktif” yang belum menikah di negeri ini terutama di kota-kota besar?
Jika kita mau melakukan flash back beberapa tahun ke belakang, maka pada tahun 1990an jumlah wanita dan pria yang produktif untuk menikah, masih sangat mudah ditemukan. Berbeda dengan beberapa tahun di era 2000an ini, banyak kaum muda yang ternyata sulit untuk menikah. Oya saya mencoba menarik kesimpulan alasan mereka sulit untuk menikah :

  1. Terlalu banyaknya target pencapaian yang diinginkan seperti harus cantik atau tampan, harus kaya, harus berkedudukan tinggi, harus mapan, harus sholeh selevel kyai, dan lain-lain.
  2. Terlalu sibuk dengan karir atau terlalu sibuk dalam mencari ilmu
  3. Keadaan ekonomi yang sulit yang menyebabkan terlalu banyak tuntutan yang harus dicapai sebelum memasuki dunia “rumah tangga”.
  4. Memandang remeh arti pentingnya menikah, padahal naluri untuk memiliki pasangan hidup setiap manusia pastilah ada selama seseorang masih normal sebagai seorang wanita ataupun sebagai seorang pria. Dan dengan menikah maka manusia akan bisa memiliki garis keturunan yang jelas.
  5. Terlalu santai, malas ataupun kurang berusaha untuk mencari pasangan hidup dengan beralasan bahwa jodoh juga akan datang suatu saat nanti. Padahal Allah SWT tidak akan mengubah nasib seseorang selama ia tidak berusaha merubah keadaannya sendiri.
  6. Faktor orang tua yang terlalu mempersulit anak-anak mereka yang telah mencapai usia dewasa untuk menikah. Seperti terlalu banyak menentukan persyaratan yang sesuai dengan kehendak orang tua, sehingga anak-anak mereka menjadi putus asa untuk menikah.

Bagaimanakah dengan solusi dari permasalahan di atas? sebenarnya jika kita mau mengkaji judul di atas, maka saya kira 50 lembar halaman bukupun tak akan cukup untuk membahasnya. Apalagi jika kita membandingkan fenomena ini dengan kenyataan yang terjadi di negara lain terutama nagara-negara maju seperti Amerika, Jepang, dan negara maju lainnya. Termasuk mengambil sample data dari masing-masing negara. Tapi seperti inilah umumnya yang terjadi saat ini. Tapi bukan berarti masalah ini tidak dapat diselesaikan dengan baik. Masalah ini lebih banyak terkait dengan individu-individu yang sedang menghadapi masalah itu sendiri. Dan jika kita melihat lebih jauh lagi, maka sebenarnya faktor agamalah yang banyak berperan sebagai pengurai dari permasalahan tersebut. Mengapa demikian? dari segi kacamata Islam, sebenarnya sebagai seorang yang mengaku dirinya beriman akan mudah menerapkan ajaran agama Islam itu sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk dalam hal kebutuhan seseorang untuk memiliki pendamping hidup.
Sebenarnya dalam tuntunan agama Islam itu sendiri tidaklah mempersulit seseorang untuk menikah seperti “apabila datang seorang lelaki yang baik agamanya datang untuk meminang seorang wanita yang baik-baik, maka dianjurkan wanita itu menerima pinangan lelaki tersebut. Apabila tidak, maka akan ditakutkan datangnya fitnah bagi wanita tersebut” (ini diambil berdasarkan sebuah hadits dari Rasulullah SAW) atau dari hadits lalinnya yang menganjurkan untuk mempermudah seseorang untuk menikah. Dengan menikah, maka seseorang terjaga dari perbuatan yang tercela seperti perzinahan. Dan dengan menikah pula, maka seseorang akan merasa tenang karena memiliki pasangan hidup yang menjadi tempat berbagi perasaan, kasih sayang, kebutuhan, perhatian, perlindungan dan rasa aman.
Jadi bagi teman-teman yang merasa masih susah untuk menikah, coba carilah biang permasalahannya seperti apa sih sebenarnya kendala mengapa tidak ada satupun pria yang datang melamar diberikan kesempatan untuk menjadi suami bagi dirinya?
Ada satu nasehat yang baik untuk diri kita yang sedang merasa “Galau” mengapa sangat susah untuk mendapatkan pasangan yang ideal? Percayalah teman…..tak akan pernah kita menemukan satu orang manusiapun di muka bumi ini yang memiliki kesempurnaan yang paripurna. Manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan kekurangan tapi juga diberikan kelebihan. Jadi untuk mengakali bagaimana untuk menemukan pasangan ideal adalah, lihatlah seperti apa sih pribadi kita sendiri? Sebenarnya Allah SWT tidak akan pernah salah mempertemukan seseorang dengan jodohnya, karena dari Al Qur’an sendiri sudah dijelaskan “…..Dia menciptakan pasangan- pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa terteram kepadanya…..”(Qur’an, Surah Ar-Rum : 21). Wanita yang baik biasanya akan mendapatkan pasangan yang baik. Pria yang jahat biasanya juga akan mendapatkan pasangan hidup yang serupa dengannya. Wallahu a’lamu bissawab.

The man who committed 99 murders

The following is based on a hadith from Sahih Bukhari Volume 4, Book 56, Number 676.

There was a man who had heartlessly murdered ninety-nine people. Then, he felt remorse.

He went to a learned man and told him about his past, explaining that he wished to repent, reform, and become a better person. “I wonder if Allah will pardon me?” he asked.

For all his learning, the scholar was a man who had not been able to digest what he had learned. “You will not be pardoned;’ he said. “Then I may as well kill you, too,” said the other. And kill him he did.

He then found another worthy individual and told him that he had killed a hundred people. “I wonder,” he said, “whether Allah will pardon me if I repent?” Being a truly wise man, he replied, “Of course you will be pardoned; repent at once. Go to such and such village, and stay with the good people, I have just one piece of advice for you: avoid the company of wicked people and mix with good people, for bad company leads one into sin:”

The man expressed repentance and regret, weeping as he sincerely implored his Lord to pardon him. Then, turning his back on bad company, he set off to find a neighborhood where righteous people lived.

On the way, his appointed hour arrived, and he died. The angels of punishment and the angels of mercy both came to take away his soul. The angels of punishment said that as a sinful person he rightfully belonged to them, but the angels of mercy also claimed him, saying, “He repented and had resolved to become a good man. He was on his way to a place where righteous people live, but his appointed hour had come.” A great debate ensued, and Gabriel was sent as an arbitrator to settle this affair.

After hearing both sides he gave this verdict: “Measure the ground. If the spot where he died is closer to the good people, then he belongs to the angels of mercy, but if it is nearer to the wicked people, he will be given to the angels of punishment.”

They measured the ground. Because the man had just set out, he was still closer to the wicked. But because he was sincere in his repentance, the Lord moved the spot where he lay and brought it to just outside the city of the good people.

That penitent servant was handed over to the angels of mercy and Allah forgived him.

——————————————————————————–

Repentance is the most noble and beloved form of obedience in the eyes of Allah. He loves those who repent. Repentance has a status that no other form of worship has. This is why Allah is extremely happy when a servant repents just as a desert traveler may be happy when he finds his lost camel.

“Except those who repent, have faith and do good deeds, for such people Allah will change their sins for good deeds. Certainly Allah is most forgiving and merciful.” (Qur’an 25:70)

Source: http://www.islamicity.com/articles/Articles.asp?ref=IC0510-2815

Quantifiers

Today we are going to learn about “Quantifiers” like “Many, Much, Few and Little”. We call them quantifiers because they are added before “Nouns” to get indications of the quantity of that noun, is it to be a quantity a certain amount or a small amount.

In English, for a large quantity sometimes we have to use Much, sometimes we have to use Many. For a small quantity, sometimes we use Little or sometimes Few. There are also A Few and A Little.

Here are the clarifications of the usage of Many, Much, Little and Few.

Much, Little and A Little

Much, Little and A Little ———-> These are used before uncountable nouns. An uncountable noun is a noun you cannot add a number to. For example you can say : “1 book”, “2 books”, etc ——– but you cannot say : “1 rice”, “2 rices”, etc. So “rice” is uncountable noun. Therefore, you have to say “Much rice” not “Many rice”.

The opposite of ‘much’ is ‘little’.

‘Much’ = a large quantity of uncountable noun >< ‘Little’ = small quantity of uncountable noun.

‘A Little’ = is between the two; not much and not little. So ‘A Little’ is a certain quantity of uncountable noun

Examples:

  • Do you eat much rice?
  • No, I don’t eat much rice, I eat (very) little rice
  • I ate a little rice last night.

Many, Few and A Few

These are used before countable nouns. A countable noun is a noun you can add a number to. For example : ‘1 book’, ‘2 books’ , etc.

Becareful that not all the countable nouns take the plural ‘s’ when you count more than one of them. Irregular plurals are also ‘countable nouns’.

1 person —–> 2 people                                                1 child —–> 10 children

Therefore, we say : many books, many people, many children

The opposite of ‘many’ is ‘few’.

‘Many’ = a large number of countable nouns >< ‘Few’ = a small number of countable nouns.

‘A Few’ = is between the two ; not ‘many’ and not ‘few’ .

‘A Few’ = a certain number.

Examples :

  • Do you know many people here?
  • No, I don’t know many people. I know (very) few people here
  • I knew a few people in the town where I lived before.

There are some important point here we have to know, as the phonetic difference between ‘few’ and ‘a few’ and also ‘little’ and ‘a little’ is very slight , in order to make it clear to the listener which one we are saying, we often add the word ‘very’ to ‘little’ and ‘few’.

Examples :

  • I usually eat very little rice, but I ate a little rice last night.
  • I know very few people here, but I knew a few people where I lived before.

Some words that you may expect to be countable, are uncountable in English. Some of these are:

Information, Knowledge, Advice, Evidence, Research, News, Progress, Work, Money, Traffic, Equipment, Acomodation, Furniture, Luggage, Software, Hardware.

If you want to make uncountable noun countable, you should use an appropriate unit of measurement:

Much milk ———> Many glasses of milk

Much equipment ———-> Many pieces of equipment

Much bread ———–> Many slices of bread

A Lot of and Some

If you don’t want to worry about wheter a noun is countable or uncountable, you can use expressions that work both groups.

There are : ‘A Lot of’ (lots of = unformal) and ‘Some’

‘A Lot of’ can replace ‘Much’ and ‘Many’ for example : “I know a lot of people”

‘Some’ can replace ‘a little’ or ‘few’ for example : “I ate some rice last night”.

* Point 1, In terms of usage, ‘a lot of’ (lots of) is more common than ‘much’ and ‘many’ in positive sentences.

Therefore, it is more common to hear :

‘I eat a lot of rice’   than   ‘I eat much rice’

‘I know a lot of people’   than   ‘I know many people’

But in negative sentences and questions, you can use both.

* Point 2, After words like: ‘too’, ‘so’, ‘as’, and ‘very’, we always use ‘much’ and ‘many’, not ‘a lot of’. For examples:

so much information

too many questions

as much money

very many ways

Comparative

Much —————> More

I don’t eat much rice. I eat more bread than rice.

Many —————> More

I don’t know many people here. I used to know more people where I lived before.

Little —————-> Less

I eat very little rice. I eat even less bread.

Few —————–> Fewer

I knew very few people where I lived before. I know even fewer people here.

Source : Learn English With Anglo Link

Humble Yourself

As-salamu `alaykum wa rahmatullah

Al-Kirizi (a poet) once said:

‘And do not walk upon the earth except in humbleness,
For how many people underneath it are more exalted than you!
If you are in glory, goodness and strength,
Then how many have died that were more stronger than you.’

Two beautiful statements:

‘Umar ibn al-Khattab said:

‘If a man humbles himself to Allah, then Allah will raise him and say to him, ‘Rise up, may Allah raise you!’ because he sees himself to be insignificant whilst he is great in the eyes of people. But if a slave is arrogant and transgresses, then Allah casts him away saying, ‘Be lowly, may Allah lower you!’ because he sees himself to be great whilst he is insignificant in the eyes of people.’

And Abu Hatim (Ibn Hibban) said:

‘The most virtuous person is the one who is humble despite being of high rank, who is ascetic despite having the capabilities and who forgives despite having power. A person doesn’t abandon humbleness except that he is at the door of arrogance and a person is never arrogant towards others except that he is someone who’s become amazed at his own self. I have never seen anybody prove arrogant over others except that Allah punishes him by subjecting him to humiliation under those who are above him.’

[ Rawdhat al-’Uqala]

Shaykh ‘Abdul-Muhsin Al-Qaasim; Khutbah from Haramain

‘Dear brother! Throw away the garb of superiority for it is not yours. It is your Creator’s. Adorn yourself with the garb of humbleness, for no man has a little amount of arrogance in his heart except that his sense of reasoning diminishes in proportion to his arrogance.’

May Allah grant us all humbleness from Him which only raises us in rank, and may He give us the tawfiq (guidance) to react well and in good manner when others act arrogantly towards us. Ameen

Source: Fajr

Being A Mom, A Superb Profession?

Kata siapa menjadi seorang ibu atau menjadi seorang ibu rumah tangga itu sama dengan ‘dunia perbudakan’? Kedengarannya aneh dan agak sedikit lucu ya? Mungkin sebagian wanita karir bahkan banyak dari kalangan orang-orang yang tinggal di kota besar di era modern sekarang ini, akan memandang remeh profesi yang satu ini. Kok dibilang profesi sih?

Ini menurut pengalaman saya loh yang selama 15 tahun terakhir ini membesarkan anak-anak saya. Dan menurut pengamatan saya sendiri, bisa dibilang pekerjaan ibu rumah tangga itu adalah sebuah profesi. Nggak percaya? Coba saja anda tengok pada KTP (kartu tanda penduduk) beberapa orang wanita yang tidak bekerja di kantor yang hanya tinggal di rumah mengurusi anak-anak mereka, biasanya pada urutan pekerjaan atau profesi akan tertulis sebagai ‘Ibu Rumah Tangga’.

Dan biasanya jika seseorang bertanya kepada saya, “apa pekerjaan ibu?”. Lalu kemudian saya jawab “di rumah ngurusin anak!”, biasanya mereka hanya tersenyum. Saya sudah bisa menebak apa yang ada di dalam benak mereka. Umumnya banyak orang-orang yang menganggap remeh bahkan menganggap bahwa pekerjaan ibu rumah tangga itu bukanlah pekerjaan yang membanggakan, rendah dan setara dengan level seorang pembantu. Mengapa? ya, tentu saja karena mereka menganggap ibu rumah tangga itu tidak mempunyai penghasilan.

Terkadang saya merasa prihatin dengan keadaan sebagian kaum perempuan terutama kaum ibu di negeri ini. Banyak dari kalangan wanita-wanita terdidik yang memiliki gelar sarjana merasa malu dan merasa tidak berguna dengan menjalani profesi ibu rumah tangga selama 24 jam. Dengan alasan emansipasi kaum wanita, maka mereka lebih memilih menyerahkan pengasuhan anak-anak mereka kepada nenek atau pembantu mereka. Padahal ada sesuatu yang tanpa mereka sadari, hilang dan menimbulkan sebuah prahara baru yang ujung-ujungnya dapat kita saksikan di berbagai media seperti perkelahian remaja, kenakalan remaja, pergaulan bebas, narkotika dan masih banyak lagi.

Nah, dalam tulisan saya kali ini, saya hanya akan menyinggung tentang sisi-sisi positif dari profesi ibu rumah tangga ini. Pernahkan anda membayangkan ada sebuah pekerjaan yang tidak memiliki gaji, tanpa batasan jam kerja, tidak mendapatkan bonus, bersedia untuk stand-by untuk hal-hal bersifat darurat, mengawasi dan mengurus keperluan seseorang tanpa mengenal istirahat bahkan dalam keadaan sakit sekalipun, tidak mengenal cuti atau libur dan tidak memiliki level atau pangkat jabatan? Jawabannya tidak ada. Dan mana ada orang yang mau menekuni pekerjaan tersebut?

Itulah pekerjaan ibu rumah tangga. Ia adalah sebuah amanah yang berat dan memiliki cakupan yang tidak terbatas. Di dalamnya ada tanggung jawab yang besar sebagaimana seseorang manager atau coach yang harus menyiapkan sebuah tim yang tangguh yang dapat memperjuangkan keberhasilan sebuah misi pencapaian dalam sebuah perusahaan. Seorang ibu harus mampu mempersiapkan sebuah tim yang terdiri dari anggota yang bernama anak. Anak ini dipersiapkan menjadi seorang manusia handal dengan berbagai bakat dan keterampilan yang tangguh dan dapat menjadi pemimpin yang hebat dan sukses suatu saat nanti. Atau mempersiapkan anak menjadi manusia yang lebih manusiawi, memiliki berbagai macam kecerdasan, perilaku yang mulia, dan sebagai seorang yang sholeh. Hmm, ternyata kedengarannya hebat ya? Bukan cuma itu, seorang ibu adalah layaknya seorang sutradara, arsitek, supervisor, trainer, designer, atau apapun itu namanya. Seorang yang bekerja di balik layar tanpa butuh penghargaan tropi sekalipun. Sungguh hebat rupanya pekerjaan yang satu ini yang hanya akan ditekuni oleh kaum perempuan yang ikhlas dan sabar.

Seorang wanita seharusnya merasa bangga dengan pekerjaan ini. Bagaimana tidak, di satu sisi ia mengajarkan kekuatan, ketegaran, kebesaran jiwa, semangat, kejujuran, keberanian, ketekunan dan disiplin yang tinggi. Namun di sisi lain, ia pun mengajarkan kasih sayang, rasa cinta, kerendahan hati, kesabaran, ketulusan, lemah lembut dan perhatian. Sungguh sempurna profesi yang satu ini. Saya hanya bisa bertanya dalam hati, masih banyakkah kaum perempuan yang ikhlas menjalaninya?

Dunia pun tahu, bahwa dibalik kesuksesan seseorang pasti ada peran seorang ibu. Lihatlah para pemimpin dunia yang sukses atau para ulama yang sukses, biasanya mereka dididik dan dibesarkan oleh seorang ibu yang hebat. Terkadang saya hanya melihat ini sebagai sebuah dilema. Betapa banyak anak-anak yang ‘kehilangan’ peran ibunya. Peran ibu yang harusnya sangat dekat, digantikan oleh seorang pembantu atau pengasuh yang belum tentu mampu mengajarkan dan mengenalkan kebaikan pada anak. Ada begitu banyak anak-anak yang ‘merindukan’ kehadiran ibu mereka. Dan inilah yang hilang dalam kehidupan sekarang ini.

Ada begitu banyak rasa kekhawatiran yang muncul. Rasa pesimisme dan juga ketakutan. Emansipasi berubah menjadi sebuah arogansi pada diri kaum perempuan. Tapi kita tidak boleh berputus asa atas fenomena kehidupan seperti di atas. Selalu ada celah dan harapan untuk merubah keadaan. Saya sangat memotivasi kaum perempuan agar tidak meninggalkan naluri aslinya sebagai seorang pendidik. Dan sungguh, profesi sebagai ibu yang baik itu bagaikan seseorang menanam benih yang baik, kemudian benih yang ditanam itu tumbuh menjadi tanaman yang kokoh dan bagus karena dirawat dengan baik, dan pada waktunya dipanen, maka tanaman itupun akan menghasilkan buah yang berkualitas baik. Proud of you mom, thank you and you’re always be the best!

To Be The Loved One

Menjadi Istri Yang Dicintai Suami

Setiap wanita ingin dicintai dan dihargai. Setiap wanita ingin merasakan bahagia apalagi setelah ia menikah dan menjadi seorang istri. Islam telah memberikan tuntunan bagaimanakah menjadi istri yang baik seperti yang diajarkan dalam Al Qur’an

فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظ اللَّهُ

Artinya :

“Maka wanita yang shalih ialah yang taat kepada Allâh, lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allâh telah memelihara mereka…”.

(Surah An-Nisâ’ (4):34)

Dalam salah sebuah hadits, Rasûlullâh saw. menyebutkan secara terperinci sifat-sifat wanita atau isteri yang sholehah. Sabda Beliau:

خَيْرُ النِّسَاءِ مَنْ تُسِرُّكَ إِذَا أَبْصَرْتَ , وَ تُطِيْعُكَ إِذَا أَمَرْتَ , وَ تَحْفَظُ غَيْبَتَكَ فِي نَفْسِهَا وَ مَالِكَ

Artinya :

“Sebaik-baik isteri ialah yang menyenangkan-mu ketika engkau menatapnya, mematuhi-mu ketika engkau perintah; dan ketika engkau pergi, ia menjaga kehormatan-mu, yaitu dengan menjaga dirinya dan juga harta-mu”.

(H.R. Ath-Thabrânî. Lihat Al-Fathul-Kabîr juz III hal. 126 no.: 3294)

suami istriMenjadi istri sholehah yang dicintai suami memang tidaklah mudah karena untuk mewujudkannya kita butuh kesungguhan hati dan juga kemauan yang kuat untuk selalu mencari ilmu seperti apa sih sebenarnya karakter yang memenuhi syarat sebagai istri sholehah itu. Dan ketika telah menemukan jawabannya maka dibutuhkan kerja keras untuk mau merubah sifat diri yang mungkin kurang bagus yaitu dengan banyak mengendalikan emosi, pikiran dan perasaan.

Pada dasarnya jika kita berusaha untuk merubah keadaan terutama sikap kita yang selama ini kurang baik terhadap suami seperti misalnya tidak mau melayani suami dengan baik, selalu memberikan respon negatif pada suami (wajah marah dan masam), sering melontarkan kata-kata kasar pada suami yang mungkin bisa menyakiti perasaannya, tidak pernah meminta maaf jika melakukan kesalahan, tidak pernah mengucapkan terima kasih pada suami, terlalu mencurigai suami dan menuduhnya secara berlebih-lebihan, menuntut sesuatu diluar batas kemampuan suami dan lain sebagainya, maka keadaan yang tadinya bisa menimbulkan pertengkaran dan situasi yang memanas niscaya berangsur-angsur akan membaik. Dan tanpa disadari oleh sang istri, itu akan mempengaruhi sikap balik dari suami yang tadinya pesimis terhadap sang istri ternyata bisa juga berubah sikap menjadi suami yang baik karena sebagian besar pria akan mudah berubah menjadi baik jika dirinya pun selalu dihargai, disayangi, diperhatikan dan dicintai oleh istrinya sebagaimana mestinya.

Ada beberapa hal penting yang harus diketahui oleh sang istri jika ingin benar-benar dicintai oleh suaminya, yaitu istri harus benar-benar menghargai dan paham tehadap apa saja yang menjadi hak suami yang harus ia penuhi. Begitu juga sebaliknya suami harus benar-benar paham dan bertanggung jawab dalam memenuhi kewajibannya tehadap istrinya tersebut. Sang istri harus pandai menempatkan dirinya bagi suami yang dicintainya. Terkadang istri harus berperan sebagai kekasih bagi suami yang menjadi belahan jiwanya, sebagai partner kerja yang cekatan, terampil dan bisa diandalkan, sebagai sahabat untuk mendengarkan curahan isi hati serta keluhan suami jika sedang menghadapi masalah di luar sana, sebagai perawat manakala suami sedang dalam keadaan sakit, sebagai istri yang bijak dalam memperhatikan faktor makanan termasuk memperhatikan unsur-unsur makanan sehat dan halal bagi suami, sebagai manager yang baik dalam mengatur harta suami, dan yang paling penting adalah mampu menjadi partner yang baik dalam mendidik anak-anak mereka agar bisa menjadi generasi yang sholeh dan berkualitas baik.

Berikut hal-hal sederhana yang bisa dilakukan oleh istri agar bisa dicintai oleh suami:

  1. Jadilah istri yang bisa memotivasi suami untuk bisa menjadi sosok yang lebih baik dan tanamkan kepercayaan diri pada suami
  2. Jika suami hendak meninggalkan rumah, ciumlah tangan suami dan ciumlah pipinya. Ucapkan kata-kata yang bisa menyemangatinya, bukan hanya menyemangati untuk mencari keberkahan harta di dunia tapi juga menyemangati untuk berbuat amal sholeh.
  3. Jika melihat suami sedang dalam keadaan sedih, ada masalah di tempat kerja atau sedang membutuhkan bantuan kita, maka segeralah menghiburnya dan membantunya.
  4. Hargailah pemberiannya sekecil apa pun itu.
  5. Sering-seringlah minta maaf pada suami karena ini akan menumbuhkan rasa cinta pada suami.
  6. Sering-seringlah mengucapkan terima kasih apalagi jika diberi sesuatu.
  7. Tidak merendahkan, mencela kekurangan dan juga membicarakan aib suami pada orang lain.
  8. Hargailah pendapat suami jika memang berbeda dengan pandangan kita
  9. Berdandan untuk suami agar selalu terlihat cantik, rapi dan menarik
  10. Sering-seringlah bercanda dengan suami agar bisa menciptakan suasana riang dan ini dapat membantu menghilangkan beban berat suami diluar rumah.
  11. Melayani suami dengan baik (baik itu urusan dapur dan tempat tidur)
  12. Pandai-pandailah menempatkan diri dalam segala situasi contoh, terkadang suami membutuhkan istri sebagai teman untuk bertukar pikiran atau meminta masukan maka istri bisa menjadi partner yang baik atau terkadang suami ingin dirawat dan disayang ketika sedang sakit.
  13. Masih banyak lagi kebaikan-kebaikan kecil yang sederhana yang bisa lakukan oleh istri untuk membuat suami semakin cinta padanya.

Nah sahabat, semoga tulisan sederhana ini bisa menjadi sumber inspirasi untuk merubah keadaan rumah tangga yang tadinya penuh dengan masalah, pertengkaran dan intrik, bisa segara dirubah menjadi keluarga yang sakinah penuh cinta dan sayang antara suami dan istri seperti yang telah dicontohkan oleh teladan kita yang mulia Rasulullah SAW.

Asma’ul Husna: The 99 Beautiful Names of Allah

AN EXPLANATION OF THE PERFECT NAMES AND ATTRIBUTES OF GOD

It is not possible to perfectly translate the 99 names of Allah from their original Arabic into English. However, here are some fairly close explanations.

“He is Allah (God), the Creator, the Originator, The Fashioner, to Him belong the most beautiful names: whatever is in the heavens and on earth, do declare His praises and Glory. And He is the Exalted in Might, The Wise. (Quran 59:24)

“The most beautiful names belong to Allah (God): so call on Him by them;…” (Quran 7:180)

^= letter ain of arabic ‘= letter hamza of Arabic

1. Allah

  • Allah, He who has the Godhood which is the power to create the entities.asmaulhusna (1)
  • 2. Ar-Rahmaan

  • The Compassionate, The Beneficent, The One who has plenty of mercy for the believers and the blasphemers in this world and especially for the believers in the hereafter.
  • 3. Ar-Raheem 

  • The Merciful, The One who has plenty of mercy for the believers.
  • 4. Al-Malik 

  • The King, The Sovereign Lord, The One with the complete Dominion, the One Whose Dominion is clear from imperfection.
  • 5. Al-Quddoos

  • The Holy, The One who is pure from any imperfection and clear from children and adversaries.
  • 6. As-Salaam 

  • The Source of Peace, The One who is free from every imperfection.
  • 7. Al-Mu’min

  • Guardian of Faith, The One who witnessed for Himself that no one is God but Him. And He witnessed for His believers that they are truthful in their belief that no one is God but Him.
  • 8. Al-Muhaimin 

  • The Protector, The One who witnesses the saying and deeds of His creatures.
  • 9. Al-^Azeez

  • The Mighty, The Strong, The Defeater who is not defeated.
  • 10. Al-Jabbaar

  • The Compeller, The One that nothing happens in His Dominion except that which He willed.
  • 11. Al-Mutakabbir 

  • The Majestic, The One who is clear from the attributes of the creatures and from resembling them.
  • 12. Al-Khaaliq 

  • The Creator, The One who brings everything from non-existence to existence.
  • 13. Al-Bari’

  • The Evolver, The Maker, The Creator who has the Power to turn the entities.
  • 14. Al-Musawwir

  • The Fashioner, The One who forms His creatures in different pictures.
  • 15. Al-Ghaffaar

  • The Great Forgiver, The Forgiver, The One who forgives the sins of His slaves time and time again.
  • 16. Al-Qahhaar

  • The Subduer, The Dominant, The One who has the perfect Power and is not unable over anything.
  • 17. Al-Wahhaab 

  • The Bestower, The One who is Generous in giving plenty without any return. He is everything that benefits whether Halal or Haram.
  • 18. Al-Razzaaq

  • The Sustainer, The Provider.
  • 19. Al-Fattaah

  • The Opener, The Reliever, The Judge, The One who opens for His slaves the closed worldly and religious matters.
  • 20. Al-^Aleem

  • The All-knowing, The Knowledgeable; The One nothing is absent from His knowledge.
  • 21. Al-Qaabid

  • The Constricter, The Retainer, The Withholder, The One who constricts the sustenance by His wisdom and expands and widens it with His Generosity and Mercy.
  • 22. Al-Baasit

  • The Expander, The Enlarger, The One who constricts the sustenance by His wisdom and expands and widens it with His Generosity and Mercy.
  • 23. Al-Khaafid

  • The Abaser, The One who lowers whoever He willed by His Destruction and raises whoever He willed by His Endowment.
  • 24. Ar-Raafi^ 

  • The Exalter, The Elevator, The One who lowers whoever He willed by His Destruction and raises whoever He willed by His Endowment.
  • 25. Al-Mu^iz

  • The Honorary, He gives esteem to whoever He willed, hence there is no one to degrade Him; And He degrades whoever He willed, hence there is no one to give Him esteem.
  • 26. Al-Muthil 

  • The Dishonorer, The Humiliator, He gives esteem to whoever He willed, hence there is no one to degrade Him; And He degrades whoever He willed, hence there is no one to give Him esteem.
  • 27. As-Samee^

  • The All-Hearing, The Hearer, The One who Hears all things that are heard by His Eternal Hearing without an ear, instrument or organ.
  • 28. Al-Baseer

  • The All-Seeing, The One who Sees all things that are seen by His Eternal Seeing without a pupil or any other instrument.
  • 29. Al-Hakam

  • The Judge, He is the Ruler and His judgment is His Word.
  • 30. Al-^Adl

  • The Just, The One who is entitled to do what He does.
  • 31. Al-Lateef

  • The Subtle One, The Gracious, The One who is kind to His slaves and endows upon them.
  • 32. Al-Khabeer

  • The Aware, The One who knows the truth of things.
  • 33. Al-Haleem

  • The Forebearing, The Clement, The One who delays the punishment for those who deserve it and then He might forgive them.
  • 34. Al-^Azeem

  • The Great One, The Mighty, The One deserving the attributes of Exaltment, Glory, Extolement, and Purity from all imperfection.
  • 35. Al-Ghafoor

  • The All-Forgiving, The Forgiving, The One who forgives a lot.
  • 36. Ash-Shakoor

  • The Grateful, The Appreciative, The One who gives a lot of reward for a little obedience.
  • 37. Al-^Aliyy

  • The Most High, The Sublime, The One who is clear from the attributes of the creatures.
  • 38. Al-Kabeer

  • The Most Great, The Great, The One who is greater than everything in status.
  • 39. Al-Hafeez 

  • The Preserver, The Protector, The One who protects whatever and whoever He willed to protect.
  • 40. Al-Muqeet

  • The Maintainer, The Guardian, The Feeder, The Sustainer, The One who has the Power.
  • 41. Al-Haseeb

  • The Reckoner, The One who gives the satisfaction.
  • 42. Aj-Jaleel

  • The Sublime One, The Beneficent, The One who is attributed with greatness of Power and Glory of status.
  • 43. Al-Kareem

  • The Generous One, The Bountiful, The Gracious, The One who is attributed with greatness of Power and Glory of status.
  • 44. Ar-Raqeeb

  • The Watcher, The Watchful, The One that nothing is absent from Him. Hence it’s meaning is related to the attribute of Knowledge.
  • 45. Al-Mujeeb

  • The Responsive, The Hearkener, The One who answers the one in need if he asks Him and rescues the yearner if he calls upon Him.
  • 46. Al-Wasi^

  • The Vast, The All-Embracing, The Knowledgeable.
  • 47. Al-Hakeem

  • The Wise, The Judge of Judges, The One who is correct in His doings.
  • 48. Al-Wadood

  • The Loving, The One who loves His believing slaves and His believing slaves love Him. His love to His slaves is His Will to be merciful to them and praise them: Hence it’s meaning is related to the attributes of the Will and Kalam (His attribute with which He orders and forbids and spoke to Muhammad and Musa -peace be upon them- . It is not a sound nor a language nor a letter.).
  • 49. Al-Majeed

  • The Most Glorious One, The Glorious, The One who is with perfect Power, High Status, Compassion, Generosity and Kindness.
  • 50. Al-Ba^ith

  • The Resurrecter, The Raiser (from death), The One who resurrects His slaves after death for reward and/or punishment.
  • 51. Ash-Shaheed

  • The Witness, The One who nothing is absent from Him.
  • 52. Al-Haqq

  • The Truth, The True, The One who truly exists.
  • 53. Al-Wakeel

  • The Trustee, The One who gives the satisfaction and is relied upon.
  • 54. Al-Qawiyy 

  • The Most Strong, The Strong, The One with the complete Power.
  • 55. Al-Mateen

  • The Firm One, The One with extreme Power which is un-interrupted and He does not get tired.
  • 56. Al-Waliyy

  • The Protecting Friend, The Supporter.
  • 57. Al-Hameed

  • The Praiseworthy, The praised One who deserves to be praised.
  • 58. Al-Muhsee

  • The Counter, The Reckoner, The One who the count of things are known to him.
  • 59. Al-Mubdi’

  • The Originator, The One who started the human being. That is, He created him.
  • 60. Al-Mu^eed

  • The Reproducer, The One who brings back the creatures after death.
  • 61. Al-Muhyi 

  • The Restorer, The Giver of Life, The One who took out a living human from semen that does not have a soul. He gives life by giving the souls back to the worn out bodies on the resurrection day and He makes the hearts alive by the light of knowledge.
  • 62. Al-Mumeet

  • The Creator of Death, The Destroyer, The One who renders the living dead.
  • 63. Al-Hayy 

  • The Alive, The One attributed with a life that is unlike our life and is not that of a combination of soul, flesh or blood.
  • 64. Al-Qayyoom

  • The Self-Subsisting, The One who remains and does not end.
  • 65. Al-Waajid

  • The Perceiver, The Finder, The Rich who is never poor. Al-Wajd is Richness.
  • 66. Al-Waahid

  • The Unique, The One, The One without a partner.
  • 67. Al-Ahad

  • The One.
  • 68. As-Samad 

  • The Eternal, The Independent, The Master who is relied upon in matters and reverted to in ones needs.
  • 69. Al-Qaadir

  • The Able, The Capable, The One attributed with Power.
  • 70. Al-Muqtadir

  • The Powerful, The Dominant, The One with the perfect Power that nothing is withheld from Him.
  • 71. Al-Muqaddim 

  • The Expediter, The Promoter, The One who puts things in their right places. He makes ahead what He wills and delays what He wills.
  • 72. Al-Mu’akh-khir 

  • The Delayer, the Retarder, The One who puts things in their right places. He makes ahead what He wills and delays what He wills.
  • 73. Al-‘Awwal

  • The First, The One whose Existence is without a beginning.
  • 74. Al-‘Akhir

  • The Last, The One whose Existence is without an end.
  • 75. Az-Zaahir

  • The Manifest, The One that nothing is above Him and nothing is underneath Him, hence He exists without a place. He, The Exalted, His Existence is obvious by proofs and He is clear from the delusions of attributes of bodies.
  • 76. Al-Baatin 

  • The Hidden, The One that nothing is above Him and nothing is underneath Him, hence He exists without a place. He, The Exalted, His Existence is obvious by proofs and He is clear from the delusions of attributes of bodies.
  • 77. Al-Walee 

  • The Governor, The One who owns things and manages them.
  • 78. Al-Muta^ali

  • The Most Exalted, The High Exalted, The One who is clear from the attributes of the creation.
  • 79. Al-Barr

  • The Source of All Goodness, The Righteous, The One who is kind to His creatures, who covered them with His sustenance and specified whoever He willed among them by His support, protection, and special mercy.
  • 80. At-Tawwaab

  • The Acceptor of Repentance, The Relenting, The One who grants repentance to whoever He willed among His creatures and accepts his repentance.
  • 81. Al-Muntaqim

  • The Avenger, The One who victoriously prevails over His enemies and punishes them for their sins. It may mean the One who destroys them.
  • 82. Al-^Afuww

  • The Pardoner, The Forgiver, The One with wide forgiveness.
  • 83. Ar-Ra’uf

  • The Compassionate, The One with extreme Mercy. The Mercy of Allah is His will to endow upon whoever He willed among His creatures.
  • 84. Malik Al-Mulk

  • The Eternal Owner of Sovereignty, The One who controls the Dominion and gives dominion to whoever He willed.
  • 85. Thul-Jalali wal-Ikram 

  • The Lord of Majesty and Bounty, The One who deserves to be Exalted and not denied.
  • 86. Al-Muqsit 

  • The Equitable, The One who is Just in His judgment.
  • 87. Aj-Jaami^

  • The Gatherer, The One who gathers the creatures on a day that there is no doubt about, that is the Day of Judgment.
  • 88. Al-Ghaniyy 

  • The Self-Sufficient, The One who does not need the creation.
  • 89. Al-Mughni

  • The Enricher, The One who satisfies the necessities of the creatures.
  • 90. Al-Maani^

  • The Preventer, The Withholder.
  • 91. Ad-Daarr

  • The Distresser, The One who makes harm reach to whoever He willed and benefit to whoever He willed.
  • 92. An-Nafi^ 

  • The Propitious, The One who makes harm reach to whoever He willed and benefit to whoever He willed.
  • 93. An-Noor

  • The Light, The One who guides.
  • 94. Al-Haadi

  • The Guide, The One whom with His Guidance His believers were guided, and with His Guidance the living beings have been guided to what is beneficial for them and protected from what is harmful to them.
  • 95. Al-Badi^

  • The Incomparable, The One who created the creation and formed it without any preceding example.
  • 96. Al-Baaqi

  • The Everlasting, The One that the state of non-existence is impossible for Him.
  • 97. Al-Waarith 

  • The Supreme Inheritor, The Heir, The One whose Existence remains.
  • 98. Ar-Rasheed

  • The Guide to the Right Path, The One who guides.
  • 99. As-Saboor

  • The Patient, The One who does not quickly punish the sinners. “…There is nothing whatever like unto Him, and He is the One that hears and sees (all things). Qur’an [42:11]
  • Source : http://www.2muslims.com