Perlukah Kita Memilih Teman?

Manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain. Manusia membutuhkan manusia lain untuk saling berinteraksi dan berkomunikasi. Dalam kehidupan sehari-hari manusia tentu membutuhkan seorang teman. Akan tetapi tidak semua teman itu adalah baik karena melalui pertemanan dengan seseorang, maka itu bisa memberikan pengaruh terhadap bagaimana manusia itu berpikir, bersikap dan berbicara.

Dalam berbagai kisah kehidupan ini, ada begitu banyak pelajaran yang bisa kita ambil hikmahnya seperti misalnya bagaimanakah kisah para penghuni gua (Ashabul Kahfi) bertemu dan bersahabat satu sama lain? bahkan satu diantara mereka adalah seekor anjing. Datrue friendn karena anjing ini bersahabat dengan orang-orang yang sholeh, maka Allah SWT pun mengangkat derajatnya dan menjadikannya sebagai satu-satunya anjing yang masuk ke dalam syurga-Nya. Atau begitu pula sebaliknya ada banyak cerita bagaimana seseorang yang tadinya baik namun kemudian terjerumus ke dalam dunia narkoba hanya karena berteman dengan orang yang salah.

Islam sebagai agama yang sempurna dan menyeluruh telah mengatur bagaimana adab-adab serta batasan-batasan dalam pergaulan. Pergaulan sangat mempengaruhi kehidupan seseorang. Dampak buruk akan menimpa seseorang akibat bergaul dengan teman-teman yang jelek, sebaliknya manfaat yang besar akan didapatkan dengan bergaul dengan orang-orang yang baik.

Pengaruh Teman Bagi Seseorang

Banyak orang yang terjerumus ke dalam lubang kemakisatan dan kesesatan karena pengaruh teman bergaul yang jelek. Namun juga tidak sedikit orang yang mendapatkan hidayah dan banyak kebaikan disebabkan bergaul dengan teman-teman yang shalih.

Dalam sebuah hadits Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang peran dan dampak seorang teman dalam sabda beliau :

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة

Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Perintah Untuk Mencari Teman yang Baik dan Menjauhi Teman yang Jelek

Imam Muslim rahimahullah mencantumkan hadits di atas dalam Bab : Anjuran Untuk Berteman dengan Orang Shalih dan Menjauhi Teman yang Buruk”. Imam An Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa dalam hadits ini terdapat permisalan teman yang shalih dengan seorang penjual minyak wangi dan teman yang jelek dengan seorang pandai besi. Hadits ini juga menunjukkan keutamaan bergaul dengan teman shalih dan orang baik yang memiliki akhlak yang mulia, sikap wara’, ilmu, dan adab. Sekaligus juga terdapat larangan bergaul dengan orang yang buruk, ahli bid’ah, dan orang-orang yang mempunyai sikap tercela lainnya.” (Syarh Shahih Muslim 4/227)

Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah mengatakan : “Hadits di ini menunjukkan larangan berteman dengan orang-orang yang dapat merusak agama maupun dunia kita. Hadits ini juga mendorong seseorang agar bergaul dengan orang-orang yang dapat memberikan manfaat dalam agama dan dunia.”( Fathul Bari 4/324)

Manfaat Berteman dengan Orang yang Baik

Hadits di atas mengandung faedah bahwa bergaul dengan teman yang baik akan mendapatkan dua kemungkinan yang kedua-duanya baik. Kita akan menjadi baik atau minimal kita akan memperoleh kebaikan dari yang dilakukan teman kita.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’adi rahimahullah menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan permisalan pertemanan dengan dua contoh (yakni penjual minyak wangi dan seorang pandai besi). Bergaul bersama dengan teman yang shalih akan mendatangkan banyak kebaikan, seperti penjual minyak wangi yang akan memeberikan manfaat dengan bau harum minyak wangi. Bisa jadi dengan diberi hadiah olehnya, atau membeli darinya, atau minimal dengan duduk bersanding dengannya , engkau akan mendapat ketenangan dari bau harum minyak wangi tersebut. Kebaikan yang akan diperoleh seorang hamba yang berteman dengan orang yang shalih lebih banyak dan lebih utama daripada harumnya aroma minyak wangi. Dia akan mengajarkan kepadamu hal-hal yang bermanfaat bagi dunia dan agamamu. Dia juga akan memeberimu nasihat. Dia juga akan mengingatkan dari hal-hal yang membuatmu celaka. Di juga senantiasa memotivasi dirimu untuk mentaati Allah, berbakti kepada kedua orangtua, menyambung silaturahmi, dan bersabar dengan kekurangan dirimu. Dia juga mengajak untuk berakhlak mulia baik dalam perkataan, perbuatan, maupun bersikap. Sesungguhnya seseorang akan mengikuti sahabat atau teman dekatnya dalam tabiat dan perilakunya. Keduanya saling terikat satu sama lain, baik dalam kebaikan maupun dalam kondisi sebaliknya.

Jika kita tidak mendapatkan kebaikan-kebaikan di atas, masih ada manfaat lain yang penting jika berteman dengan orang yang shalih. Minimal diri kita akan tercegah dari perbuatan-perbuatn buruk dan maksiat. Teman yang shalih akan senantiasa menjaga dari maksiat, dan mengajak berlomba-lomba dalam kebaikan, serta meninggalkan kejelekan. Dia juga akan senantiasa menjagamu baik ketika bersamamu maupun tidak, dia juga akan memberimu manfaat dengan kecintaanya dan doanya kepadamu, baik ketika engkau masih hidup maupun setelah engkau tiada. Dia juga akan membantu menghilangkan kesulitanmu karena persahabatannya denganmu dan kecintaanya kepadamu. (Bahjatu Quluubil Abrar, 148)

Mudharat Berteman dengan Orang yang Jelek

Sebaliknya, bergaul dengan teman yang buruk juga ada dua kemungkinan yang kedua-duanya buruk. Kita akan menjadi jelek atau kita akan ikut memperoleh kejelekan yang dilakukan teman kita. Syaikh As Sa’di rahimahulah juga menjelaskan bahwa berteman dengan teman yang buruk memberikan dampak yang sebaliknya. Orang yang bersifat jelek dapat mendatangkan bahaya bagi orang yang berteman dengannya, dapat mendatangkan keburukan dari segala aspek bagi orang yang bergaul bersamanya. Sungguh betapa banyak kaum yang hancur karena sebab keburukan-keburukan mereka, dan betapa banyak orang yang mengikuti sahabat-sahabat mereka menuju kehancuran, baik mereka sadari maupun tidak. Oleh karena itu, sungguh merupakan nikmat Allah yang paling besar bagi seorang hamba yang beriman yaitu Allah memberinya taufik berupa teman yang baik. Sebaliknya, hukuman bagi seorang hamba adalah Allah mengujinya dengan teman yang buruk. (Bahjatu Qulubil Abrar, 185)

Kebaikan Seseorang Bisa Dilihat Dari Temannya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan teman sebagai patokan terhadapa baik dan buruknya agama seseorang. Oleh sebab itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kita agar memilih teman dalam bergaul. Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل

Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)

Jangan Sampai Menyesal di Akhirat

Memilih teman yang jelek akan menyebakan rusak agama seseorang. Jangan sampai kita menyesal pada hari kiamat nanti karena pengaruh teman yang jelek sehingga tergelincir dari jalan kebenaran dan terjerumus dalam kemaksiatan. Renungkanlah firman Allah berikut :

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلاً يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَاناً خَلِيلاً لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولاً

Dan ingatlah ketika orang-orang zalim menggigit kedua tanganya seraya berkata : “Aduhai kiranya aku dulu mengambil jalan bersama Rasul. Kecelakaan besar bagiku. Kiranya dulu aku tidak mengambil fulan sebagai teman akrabku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur’an sesudah Al Qur’an itu datang kepadaku. Dan setan itu tidak mau menolong manusia” (Al Furqan:27-29)
Lihatlah bagiamana Allah menggambarkan seseorang yang teah menjadikan orang-orang yang jelek sebagai teman-temannya di dunia sehingga di akhirat menyebabkan penyesalan yang sudah tidak berguna lagi.

Sifat Teman yang Baik

Ibnu Qudamah Al Maqdisi rahimahullah berkata :

وفى جملة، فينبغى أن يكون فيمن تؤثر صحبته خمس خصال : أن يكون عاقلاً حسن الخلق غير فاسق ولا مبتدع ولا حريص على الدنيا

Secara umum, hendaknya orang yang engkau pilih menjadi sahabat memiliki lima sifat berikut : orang yang berakal, memiliki akhlak yang baik, bukan orang fasik, bukan ahli bid’ah, dan bukan orang yang rakus dengan dunia” (Mukhtasar Minhajul Qashidin 2/36).

Kemudian beliau menjelaskan : “Akal merupakan modal utama. Tidak ada kebaikan berteman dengan orang yang bodoh. Karena orang yang bodoh, dia ingin menolongmu tapi justru dia malah mencelakakanmu. Yang dimaksud dengan orang yang berakal adalah orang yang memamahai segala sesuatu sesuai dengan hakekatnya, baik dirinya sendiri atau tatkala dia menjelaskan kepada orang ain. Teman yang baik juga harus memiliki akhlak yang mulia. Karena betapa banyak orang yang berakal dikuasai oleh rasa marah dan tunduk pada hawa nafsunya, sehingga tidak ada kebaikan berteman dengannya. Sedangkan orang yang fasik, dia tidak memiliki rasa takut kepada Allah. Orang yang tidak mempunyai rasa takut kepada Allah, tidak dapat dipercaya dan engkau tidak aman dari tipu dayanya. Sedangkan berteman denagn ahli bid’ah, dikhawatirkan dia akan mempengaruhimu dengan kejelekan bid’ahnya. (Mukhtashor Minhajul Qashidin, 2/ 36-37)

Hendaknya Orang Tua Memantau Pergaulan Anaknya

Kewajiban bagi orang tua adalah mendidik anak-anaknya. Termasuk dalam hal ini memantau pergaulan anak-anaknya. Betapa banyak anak yang sudah mendapat pendidikan yang bagus dari orang tuanya, namun dirusak oleh pergaulan yang buruk dari teman-temannya. Hendaknya orangtua memperhatikan lingkungan dan pergaulan anak-anaknya, karena setap orang tua adalah pemimpin bagikeluarganya, dan setiap pemimpin kan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinnya. Allah Ta’ala juga berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُون

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan “ (At Tahrim:6).

Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga kita dan keluaraga kita dari pengaruh teman-teman yang buruk dan mengumpulkan kita bersama teman-teman yang baik. Wallahul musta’an.

Sebagian artikel di atas dikutip dari : http://muslim.or.id

Fenomena Susah Untuk Menikah

Saya rasa tak ada seorangpun yang mau mengalami seperti judul di atas. Bagaimanapun yang namanya menikah adalah salah satu kebutuhan alamiah dasar manusia. Ya ngga sih? mungkin bagi manusia yang masih normal masih membutuhkannya, tapi bagi yang mungkin tidak normal, hmmmm…..tanyakan pada hati nurani anda.
Suatu ketika saya sedang ngobrol dengan salah seorang rekan saya sesama guru. Dia menceritakan bahwa dia mempunyai teman (seorang wanita) yang sedang mencari jodoh padahal usianya saat ini sudah lebih dari 30 tahun. Setelah saya tanyakan kira-kira apakah cuma dirinya seorang yang mencari jodoh? ternyata dari teman yang lainpun saya mendapatkan informasi yang serupa. Ternyata jumlah wanita yang belum menikah di usia di atas 27 sampai 30an tahun sangat banyak.
Sebenarnya ini hanyalah analisa saya pribadi sebagai seorang istri, seorang ibu, seorang guru sekaligus mempunyai sahabat yang banyak dan sering menjadi tempat curhat oleh teman-teman saya. Menurut pendapat saya pribadi, sebenarnya ini adalah sesuatu yang lucu tapi aneh. Kok lucu dan aneh? yang lucu dan aneh bagi saya adalah sebagian besar dari wanita yang belum menikah ini memiliki wajah yang tidaklah jelek, kebanyakan dari mereka berwajah manis bahkan boleh dikatakan cantik, berkulit terang, berpendidikan bagus dan dibesarkan dalam lingkungan yang baik-baik. Apakah tidak ada seorang pria yang pernah melamar atau tertarik dengan mereka? jawabannya adalah “TIDAK”. Bahkan mereka sudah sering diperkenalkan dengan seorang pria yang tertarik bahkan mau menjadi suami bagi mereka. Tapi “SAYANG” jawaban dari para wanita ini adalah “Mereka Menolak Pria-Pria Yang Bermaksud Baik Tersebut” untuk melamar secara baik-baik dan datang kepada orang tua mereka. Alasannya adalah karena tidak sesuai dengan kategori “Pria Dambaan” mereka, seperti kaya, punya jabatan tinggi, sudah mapan seperti sudah punya rumah sendiri, mobil sendiri, mesti sholeh setara level Ustadz, dan impian lain mereka.
Apakah hal ini terjadi pula pada kaum Pria? Ya, tentu saja karena mereka ingin melamar secara baik-baik, tapi mereka selalu “TERTOLAK”. Sungguh kasihan nasib para “Pria” ini. Dan akhirnya merekapun menjadi putus asa. Sebagian dari mereka yang tadinya ingin melamar wanita baik-baik tapi tertolak, maka akhirnya mereka pun memilih wanita mana saja yang mau menerima lamaran mereka. Hehe…terserah apapun pendapat anda tapi inilah kenyataan yang banyak terjadi di sekitar kita. Dan seandainya saja ada pihak yang ditugaskan oleh pemerintah untuk mengambil sample data ada berapakah jumlah “Wanita Produktif” dan “Pria Produktif” yang belum menikah di negeri ini terutama di kota-kota besar?
Jika kita mau melakukan flash back beberapa tahun ke belakang, maka pada tahun 1990an jumlah wanita dan pria yang produktif untuk menikah, masih sangat mudah ditemukan. Berbeda dengan beberapa tahun di era 2000an ini, banyak kaum muda yang ternyata sulit untuk menikah. Oya saya mencoba menarik kesimpulan alasan mereka sulit untuk menikah :

  1. Terlalu banyaknya target pencapaian yang diinginkan seperti harus cantik atau tampan, harus kaya, harus berkedudukan tinggi, harus mapan, harus sholeh selevel kyai, dan lain-lain.
  2. Terlalu sibuk dengan karir atau terlalu sibuk dalam mencari ilmu
  3. Keadaan ekonomi yang sulit yang menyebabkan terlalu banyak tuntutan yang harus dicapai sebelum memasuki dunia “rumah tangga”.
  4. Memandang remeh arti pentingnya menikah, padahal naluri untuk memiliki pasangan hidup setiap manusia pastilah ada selama seseorang masih normal sebagai seorang wanita ataupun sebagai seorang pria. Dan dengan menikah maka manusia akan bisa memiliki garis keturunan yang jelas.
  5. Terlalu santai, malas ataupun kurang berusaha untuk mencari pasangan hidup dengan beralasan bahwa jodoh juga akan datang suatu saat nanti. Padahal Allah SWT tidak akan mengubah nasib seseorang selama ia tidak berusaha merubah keadaannya sendiri.
  6. Faktor orang tua yang terlalu mempersulit anak-anak mereka yang telah mencapai usia dewasa untuk menikah. Seperti terlalu banyak menentukan persyaratan yang sesuai dengan kehendak orang tua, sehingga anak-anak mereka menjadi putus asa untuk menikah.

Bagaimanakah dengan solusi dari permasalahan di atas? sebenarnya jika kita mau mengkaji judul di atas, maka saya kira 50 lembar halaman bukupun tak akan cukup untuk membahasnya. Apalagi jika kita membandingkan fenomena ini dengan kenyataan yang terjadi di negara lain terutama nagara-negara maju seperti Amerika, Jepang, dan negara maju lainnya. Termasuk mengambil sample data dari masing-masing negara. Tapi seperti inilah umumnya yang terjadi saat ini. Tapi bukan berarti masalah ini tidak dapat diselesaikan dengan baik. Masalah ini lebih banyak terkait dengan individu-individu yang sedang menghadapi masalah itu sendiri. Dan jika kita melihat lebih jauh lagi, maka sebenarnya faktor agamalah yang banyak berperan sebagai pengurai dari permasalahan tersebut. Mengapa demikian? dari segi kacamata Islam, sebenarnya sebagai seorang yang mengaku dirinya beriman akan mudah menerapkan ajaran agama Islam itu sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk dalam hal kebutuhan seseorang untuk memiliki pendamping hidup.
Sebenarnya dalam tuntunan agama Islam itu sendiri tidaklah mempersulit seseorang untuk menikah seperti “apabila datang seorang lelaki yang baik agamanya datang untuk meminang seorang wanita yang baik-baik, maka dianjurkan wanita itu menerima pinangan lelaki tersebut. Apabila tidak, maka akan ditakutkan datangnya fitnah bagi wanita tersebut” (ini diambil berdasarkan sebuah hadits dari Rasulullah SAW) atau dari hadits lalinnya yang menganjurkan untuk mempermudah seseorang untuk menikah. Dengan menikah, maka seseorang terjaga dari perbuatan yang tercela seperti perzinahan. Dan dengan menikah pula, maka seseorang akan merasa tenang karena memiliki pasangan hidup yang menjadi tempat berbagi perasaan, kasih sayang, kebutuhan, perhatian, perlindungan dan rasa aman.
Jadi bagi teman-teman yang merasa masih susah untuk menikah, coba carilah biang permasalahannya seperti apa sih sebenarnya kendala mengapa tidak ada satupun pria yang datang melamar diberikan kesempatan untuk menjadi suami bagi dirinya?
Ada satu nasehat yang baik untuk diri kita yang sedang merasa “Galau” mengapa sangat susah untuk mendapatkan pasangan yang ideal? Percayalah teman…..tak akan pernah kita menemukan satu orang manusiapun di muka bumi ini yang memiliki kesempurnaan yang paripurna. Manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan kekurangan tapi juga diberikan kelebihan. Jadi untuk mengakali bagaimana untuk menemukan pasangan ideal adalah, lihatlah seperti apa sih pribadi kita sendiri? Sebenarnya Allah SWT tidak akan pernah salah mempertemukan seseorang dengan jodohnya, karena dari Al Qur’an sendiri sudah dijelaskan “…..Dia menciptakan pasangan- pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa terteram kepadanya…..”(Qur’an, Surah Ar-Rum : 21). Wanita yang baik biasanya akan mendapatkan pasangan yang baik. Pria yang jahat biasanya juga akan mendapatkan pasangan hidup yang serupa dengannya. Wallahu a’lamu bissawab.

Seburuk-Buruknya Kesalahan Adalah….

Sahabatku, manusia ketika dilahirkan adalah dalam keadaan fitrah yaitu masih dalam keadaan bersih dan suci dari dosa sebagaimana yang sering diajarkan dalam agama kita Islam. Kemudian manusia mengalami beberapa tahap perkembangan termasuk mengenal dan belajar tentang segala sesuatu. Dan itu sangat erat kaitannya dengan peran kedua orang tua dan lingkungan dalam mendidiknya. Jika kedua orang tuanya mengajarkan sesuatu sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya, maka niscaya manusia yang dididik itu pun akan menjadi manusia yang baik. Begitu pula sebaliknya, apabila kedua orang tuanya mendidiknya dengan cara yang salah, maka akan menjadikan manusia itu berperilaku buruk dan hanya akan selalu menimbulkan masalah dalam hubungannya dengan manusia lainnya begitu juga kepada Allah Sang Pencipta.turn to Allah

Namun manusia tetaplah manusia, yang memang Allah SWT sengaja mengujinya dengan berbagai aturan dan larangan agar manusia itu bisa lebih mengenal dan membedakan manakah yang baik dan mana yang buruk. Tujuan tentu saja agar manusia bisa tunduk dan patuh pada perintah-Nya dan hanya beribadah kepada-Nya.

Setiap orang disengaja atau tidak, pernah melakukan kesalahan baik itu kesalahan yang sifatnya ringan maupun kesalahan berat. Mungkin seseorang pernah melakukan kesalahan seperti menyakiti orang lain dengan ucapan dan perbuatannya, mengambil hak orang lain, menyakiti makhluk lain seperti hewan dan sebagainya, bahkan tak jarang seorang dapat menyakiti dirinya sendiri seperti mengkonsumsi sesuatu yang berbahaya bagi tubuhnya sendiri, dan masih banyak lagi contoh kesalahan yang dilakukan oleh manusia. Akan tetapi Allah Maha Rahman dan Maha Rahim adalah satu-satunya Penerima Taubat bagi manusia untuk bisa kembali memperbaiki kesalahan yang telah terjadi sepanjang manusia itu masih mau memperbaiki keadaan dirinya dan orang lain yang telah menjadi dampak perbuatan buruknya itu.

Oleh karena itu Allah SWT telah memberikan petunjuk-Nya melalui Al Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya agar manusia bisa mengambil pelajaran seperti apa seharusnya manusia itu bertindak agar tidak terjatuh dalam kesalahan sama yang telah dilakukannya. Manusia ada yang diberikan hidayah oleh Allah sekalipun ia sebelumnya termasuk orang yang banyak melakukan dosa dan kesalahan, kemudian ada juga manusia yang tidak dapat menerima hidayah karena memang keadaan dirinya yang tak mau berubah. Selama manusia itu masih hidup, maka Allah SWT masih memberikan kesempatan padanya untuk memperbaiki kesalahan yang telah ia lakukan agar ia bisa menjadi manusia yang berakhlak baik dan dicintai oleh Allah yang telah menciptakannya.

Sahabatku, tahukah kalian apakah kesalahan terburuk yang pernah dilakukan oleh seseorang? Yaitu orang yang hingga akhir hayatnya sama sekali tidak pernah mengenal siapa penciptanya. Ia tak pernah mengenal Allah SWT yang mungkin telah berkali-kali telah memberikan tanda-tanda tentang keberadaan-Nya. Tetapi orang itu tak dapat menggunakan akal dan hati nuraninya untuk mencari kebenaran. Ia terhalang dari hidayah hingga suatu saat ia dibangkitkan dalam keadaan tidak memiliki seorang penolong pun yaitu Robb yang telah memberinya kesempatan hidup di dunia.